Botol
Manci adalah manusia sebesar penisilin. Mereka hidup di dunia mereka yang
berhimpitan dengan dunia manusia. Terkadang, jika ada patahan waktu, dunia
mereka dan dunia manusia bersatu. Saat itulah Botol Manci bisa dilihat dengan
mata telanjang. Selebihnya, manusia tidak dapat melihat mereka.
Pagi
itu hujan deras. Guntur dan kilat menyambar. Pepohonan terseok-seok karena
hujan dan angin. Richard, murid kelas lima sekolah dasar, berlari memegang daun
pisang yang sudah tidak lagi berbentuk karena terpaan angin. Sekujur tubuhnya
basah kuyub. Tapi ia terus berlari. Asalkan mendapat tempat berteduh dekat
sekolah, itu sudah cukup. Begitu pikirnya. Ia tidak peduli seragamnya yang
basah. Ia hanya khawatir buku sekolahnya. Tadi sudah dibungkus dengan kantong plastik.
Tapi entah kini. Mungkin kantong plastik juga sudah ditembus hujan.
Sebuah
gubuk nampak di depan. Richard segera berlari masuk. Lumayan. Buat berteduh
sebentar. Sekolah masuk pukul setengah delapan. Mungkin sekarang masih jam
tujuh. Entahlah. Matahari tak tampak di langit. Gelap dimana-mana. Jiika ada
cahaya, itu datang dari pijar halilintar di langit.
Richard
membuang daun pisang yang sudah sobek. Seluruh badannya basah kuyup. Dibukanya
tas sekolah. Beruntung. Air tidak menembusi kantong plastik. Ia melihat ke arah
jalan raya. Kabur. Yang nampak hanya hujan. Sepatunya di lepas. Juga kaos kaki.
“Aku akan tetap ke sekolah,” guman Richard.
“Hei!
Hei!, suara hardikan terdengar.
Richard
menoleh sekeliling. Tidak ada siapa-siapa.
“Hei!
Kamu! Aku disini.....Hei!”
Richard
melihat ke sudut gubuk, tempat darimana suara itu berasal. Ia terkejut. Seorang
lelaki muda bertopi runcing sedang berada di bawah daun cendawan. Rasa takut
menghinggapi Richard. Inikah Botol Manci yang sering diceritakan orang?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar