Minggu, 23 Desember 2012

Botol Manci (1)



Botol Manci adalah manusia sebesar penisilin. Mereka hidup di dunia mereka yang berhimpitan dengan dunia manusia. Terkadang, jika ada patahan waktu, dunia mereka dan dunia manusia bersatu. Saat itulah Botol Manci bisa dilihat dengan mata telanjang. Selebihnya, manusia tidak dapat melihat mereka.

Pagi itu hujan deras. Guntur dan kilat menyambar. Pepohonan terseok-seok karena hujan dan angin. Richard, murid kelas lima sekolah dasar, berlari memegang daun pisang yang sudah tidak lagi berbentuk karena terpaan angin. Sekujur tubuhnya basah kuyub. Tapi ia terus berlari. Asalkan mendapat tempat berteduh dekat sekolah, itu sudah cukup. Begitu pikirnya. Ia tidak peduli seragamnya yang basah. Ia hanya khawatir buku sekolahnya. Tadi sudah dibungkus dengan kantong plastik. Tapi entah kini. Mungkin kantong plastik juga sudah ditembus hujan.

Sebuah gubuk nampak di depan. Richard segera berlari masuk. Lumayan. Buat berteduh sebentar. Sekolah masuk pukul setengah delapan. Mungkin sekarang masih jam tujuh. Entahlah. Matahari tak tampak di langit. Gelap dimana-mana. Jiika ada cahaya, itu datang dari pijar halilintar di langit.

Richard membuang daun pisang yang sudah sobek. Seluruh badannya basah kuyup. Dibukanya tas sekolah. Beruntung. Air tidak menembusi kantong plastik. Ia melihat ke arah jalan raya. Kabur. Yang nampak hanya hujan. Sepatunya di lepas. Juga kaos kaki. “Aku akan tetap ke sekolah,” guman Richard.

“Hei! Hei!, suara hardikan terdengar.
Richard menoleh sekeliling. Tidak ada siapa-siapa.
“Hei! Kamu! Aku disini.....Hei!”
Richard melihat ke sudut gubuk, tempat darimana suara itu berasal. Ia terkejut. Seorang lelaki muda bertopi runcing sedang berada di bawah daun cendawan. Rasa takut menghinggapi Richard. Inikah Botol Manci yang sering diceritakan orang?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar